Angka PHK Makin Bertambah, Pengesahan RUU Cipta Kerja Makin Mendesak

Kerjasejahtera.net – Tak ada alasan paling mendasar mengapa pengesahan RUU Cipta Kerja makin mendesak selain karena angka PHK (pemutusan hubungan kerja) serta para pekerja yang dirumahkan makin bertambah.

Tentu saja itu dampak dari menggejalanya pandemi Covid-19. Seperti diungkap Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani, jumlah yang terkena PHK dan dirumahkan mencapai 6 juta orang lebih.

Jumlah tersebut merupakan update terbaru yang dikumpulkan dari berbagai asosiasi pengusaha.

“Saya dapat update terus dari asosiasi setiap 2-3 hari mengenai angka yang dirumahkan dan di-PHK. Angka ini makin lama makin bertambah. Kalau saya lihat angkanya 6 juta lebih, ini baru data sektor formal, belum sektor informal,” jelas Rosan (11/5).

Dari total angka itu, lanjutnya, sebesar 90 persen merupakan karyawan yang dirumahkan. Sementara angka yang di-PHK sekitar 10 persen.

“Karena kalau yang di-PHK kan mesti ada pesangon.”

Ia pun menjabarkan kembali, dari angka itu, pekerja yang dirumahkan dan di-PHK paling banyak dari sektor tekstil. Jumlahnya mencapai 2,1 juta orang atau porsinya sekitar 30 persen.

“Sementara sektor kedua yang paling besar adalah sektor angkutan darat 1,4 juta orang, restoran 1 juta orang, alas kaki 500 ribu orang, perhotelan 430 orang, ritel 400 ribu orang, dan sisanya tersebar di berbagai sektor.”

Melihat banyak para pekerja yang kini dirumahkan dan di-PHK lantaran perusahaan-perusahaan tidak kuat menanggung beban operasial akibat pandemi Covid-19, ini tentu menjadi alasan kuat mengapa RUU Cipta Kerja patut segera disahkan.

Kita tahu, dengan pengesahan RUU Cipta Kerja, potensi investor ke dalam negeri akan jauh lebih banyak. Artinya, kesempatan kerja karena lapangan kerja terbuka luas itu akan menjadi besar.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram