Ini Alasan Perusahaan Multinasional Enggan Buka Lapangan Kerja di Indonesia

Kerjasejahtera.net – Global value chains (GVC) memiliki peran penting dalam mendorong peningkatan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi serta peningkatan standar hidup suatu negara. Menurut World Bank, GVC adalah suatu proses untuk menghasilkan satu produk barang jadi yang melibatkan beberapa negara mulai dari proses produksi hingga proses pemasarannya.

Di Asia Tenggara, saat ini, yang menjadi primadona perusahaan-perusahaan multinasional GVC untuk menananamkan modal dan membuka lapangan kerja yang besar adalah Vietnam. Biro Sensus A.S. menunjukkan, pada 2019, terdapat peningkatan 35,6 persen dalam impor barang dari Vietnam. 

Salah satu sebab Indonesia saat ini bukan tujuan bagi perusahaan-perusahaan besar multinasional GVC adalah Indonesia kurang fleksibel dalam kebijakan terkait investasi dan ketenagakerjaan. Di sini peran Omnibus Law Cipta Kerja sangat urgen untuk memperbaiki regulasi yang menghambat masuknya perusahaan-perusahaan multinasional ke Indonesia untuk menciptakan jutaan lapangan kerja dan bisa menambah kas Negara.

Apalagi saat ini di Indonesia sangat membutuhkan terciptanya jutaan lapangan kerja baru. Sebelum wabah covid-19, angka pengangguran terbuka hingga 7 juta jiwa dan wabah covid-19 menyumbang 3-6 juta tenaga kerja PHK.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi tujuan bagi perusahaan-perusahaan multinasional untuk menanamkan modal dan membuka jutaan lapangan kerja. Selain jumlah tenaga kerja usia produktif sangat banyak, juga di Indonesia tersedia beragam sumber daya alam (SDA)yang dibutuhkan untuk kebutuhan produksi.

Tapi masalahnya, perusahaan-perusahaan multinasional memliki pertimbangan yang lebih menentukan dari sekedar kesediaan tenaga kerja dan SDA. Yakni produktivitas yang efesien sejak awal memulai usaha, produksi hingga pemasaran.

Dengan regulasi di Indonesia yang ada saat ini, mereka sejak proses perizinan akan mendapat kendala. Perizinan usaha kita rumit, tumpang tindih dan memakan waktu serta biaya yang tidak sedikit.

Pada proses produksi, mereka dihadapkan pada aturan ketenagakerjaan yang tidak sefleksibel Vietnam. Hanya ada satu skema upah dan aturan-aturan ketenagakerjaan yang kaku lainnya. 

Selain itu, pada proses distribusi barang ke luar negeri, atau ekspor barang-barang hasil produksi, mereka akan berhadapan lagi dengan regulasi yang rumi, tumpang tindiht dan memberatkan.

Itu mengapa RUU Cipta Kerja sangat mendesak untuk segera disahkan. Tentu RUU ini tidak akan menguntungkan bagi elit-elit politisi yang hobby memelintir RUU Cipta Kerja demi tujuan popularitas. 

Sebaliknya, Omnibus Law Cipta Kerja menguntungkan bagi belasan juta saudara-saudara kita yang yang saat ini, detik ini, membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga dan membiaya kebutuhan pendidiakan dan kesehatan anak-anak mereka

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram