Menggenjot Kemudahan Berbisnis lewat Omnibus Law Cipta Kerja

Kerjasejahtera.net – Menggenjot kemudahan berbisnis di Indonesia adalah keharusan. Lewat Omnibus Law, dalam hal ini Cipta Kerja, upaya itu bisa diraih.

Berkaca pada angka pengangguran yang kian meningkat, diperparah dengan pandemi Covid-19, itu adalah bukti bahwa masih kurangnya lapangan kerja yang tersedia dalam negeri. Ketidaktersediaan lapangan kerja ini merupakan dampak dari kurangnya investasi yang secara langsung dipengaruhi oleh rumitnya regulasi dan birokrasi pengaturannya.

Alhasil, rumitnyaregulasi dan birokrasi pengaturan investasi itulah yang meruntuhkan kemudahan berbisnis di Indonesia. Seperti juga orang pada umumnya, para investor pun cenderung memilih mana yang iklim yang memudahkan ketimbang harus bertarung dalam kondisi yang memberatkan.

Lihat saja bagaimana peringkat kemudahan berbisnis Indonesia. Dari segi Ease of Doing Business (EODB) dan daya saing Indonesia, kita masih berada di posisi yang termasuk terbelakang. Terhadap negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, misalnya, posisi kita berada tepat di bawahnya.

Ya, itu semua lantaran efisiensi dalam hal investasi kita sangat menurun. Tentu saja bukan perkara regulasi dan birokrasi semata yang memengaruhinya, melainkan juga praktik-praktik korupsi di dalamnya yang turut menghambat kinerja investasi.

Beruntungnya, pemerintah bersama DPR RI kini berupaya menggenjit kemudahan berbisnis itu lewat Omnibus Law Cipta Kerja. Tentu rancangan kebijakan ini sangat pasti bisa jadi modal utama dalam meningkatkan kepercayaan para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Harus kita akui, Omnibus Law Cipta Kerja merupakan upaya pemerintah dan DPR RI mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Caranya, antara lain, seperti menjaga konsumsi, daya beli, serta meningkatkan kinerja investasi.

Tidak ada alasan untuk menolak Omnibus Law Cipta Kerja. Kondisi perekonomian menuntut kita untuk mendukung pengesahannya segera. Terlambat sedikit saja, terlebih di masa pandemi Covid-19, alih-alih akan mengejar ketertinggalan yang memang selama ini kita derita, upaya untuk bangkit dan berbenah akan terasa mustahil.

Kita semua menghendaki angka pengangguran tak ada lagi, atau setidaknya menurun. Tetapi bagaimana mungkin jika lapangan kerja tidak tersedia secara luas? Walaupun berkehendak menciptakan lapangan kerja, bagaimana mungkin pula jika investasi sangat sedikit?

Bahkan kita malah terkesan menolak investasi. Jika bukan karena kesalahpahaman, penolakan itu lebih bersumber dari rumitnya regulasi dan birokrasi pengaturannya.

Sudah saatnya Indonesia bangkit. Lewat Omnibus Law Cipta Kerja, kemudahan berbisnis harus diretas. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Harus menunggu berapa jumlah pengagguran lagi untuk kita bangkit dan sejahtera?

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram