Omnibus Law akan Ciptakan Tenaga Kerja Level Insinyur

Kerjasejahtera.net – Sejak pertama kali dicanangkan, kebijakan pemerintah terkait Omnibus Law mendapat respons yang beragam dari masyarakat. Berbagai pihak bahkan ada yang menuding bahwa rancangan regulasi tersebut, khususnya klaster ketenagakerjaan, justru memberi kemudahan bagi TKA (Tenaga Kerja Asing) untuk masuk ke wilayah Indonesia.

Langkah pemerintah itu juga dinilai dapat mengakibatkan invasi TKA dengan skala yang lebih besar sehingga dapat mengakibatkan tenaga kerja lokal dianaktirikan.

Dikatakan, hal itu sangat mungkin terjadi mengingat ketentuan Pasal 89 RUU Ciptaker, yang telah mengubah dan menghapus beberapa ketentuan sebelumnya, yakni Undang-Undang Nomor 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Kekhawatiran itu tentu tidaklah mendasar dan cenderug terburu-buru. Kesalahpahaman tersebut sangat mungkin terjadi akibat pembacaan yang tidak utuh.

Menyoal keterlibatan TKA di Indonesia, sejatinya, dapat diurai dengan merujuk ketentuan Pasal 89 Ayat 4 RUU tersebut; semua perusahaan pemberi kerja TKA, termasuk startup, wajib menunjuk tenaga kerja yang merupakan warga negara Indonesia sebagai tenaga pendamping TKA.

Kehadiran TKA, dalam hal ini, merupakan wadah atau tempat belajar tenaga kerja lokal. Selain meningkatkan kualitas iklim bisnis dan investasi di Indonesia, melalui Omnibus Law, pemerintah juga berkeinginan untuk mendongkrak pertumbuhan tenaga kerja lokal beserta kualitas dan mutunya.

Apa yang salah dengan belajar kepada TKA?

Penting untuk diingat, jumlah insinyur yang dimiliki negara padat penduduk ini sangatlah kecil. Di tahun 2017 saja, rasio insinyur Indonesia hanya 2.671 orang per 1 juta penduduk. Sedangkan pertumbuhan setiap tahunnya hanya mampu mencapai angka 164 orang per 1 juta penduduk.

Ironisnya, negara maju seperti Korea, rasio insinyur-nya telah mencapai angka 25.309 orang per 1 juta penduduk. Sementara di negara berkembang seperti Malaysia, jumlahnya mencapai 3.333 orang per 1 juta penduduk. Indonesia jauh tertinggal dan menunggu bukanlah pilihan yang patut diambil.

Dalam rangka menghadapi arus globalisasi dan pasar bebas, upaya untuk menghadirkan TKA sebagai media belajar tenaga kerja lokal tentu menjadi strategi yang efekif dan efisien. Bersama mereka, tidak menutup kemungkinan, kapasitas tenaga kerja tanah air dapat mengimbangi kamampuan para lulusan insinyur yang (tidak seberapa) dimiliki Indonesia.

Soal jumlah TKA, sepanjang tahun 2015-2018 rata-rata pertumbuhan TKA di Indonesia berada di angka 8,56 persen  atau 95.335 orang setiap tahunnya. Umumnya, menduduki 4 (empat) sektor, yakni: konstruksi, Real Estate, Pendidikan, dan Industri Pengolahan. 

Pada saat yang bersamaan, data BPS 2014-2019 menyebutkan, jumlah angkatan kerja Indonesia terus mengalami peningkatan hingga 8,7% setiap tahunnya, di mana 50% di antaranya bekerja di sektor informal.

Kondisi ini menjadi semacam sirkulasi yang dapat secara terus-menerus mencetak tenaga kerja Indonesia yang lebih kompeten. Bukan tanpa alasan, keberadaan TKA sebagaimana termuat dalam RUU tersebut juga terbatas oleh waktu, yakni hanya 3 bulan.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram